PRODUK

Minggu, 01 Mei 2011

Waralaba, Berbisnis Tanpa Uji Coba

KOMPAS.com — Pilihan berwirausaha melalui bisnis waralaba (franchise) masih belum dikenal luas di Indonesia. Padahal, jenis usaha ini menyodorkan keuntungan dan kemudahan yang tidak dimiliki jenis bisnis lainnya.
"Waralaba melewatkan tahapan uji coba dalam bisnis yang sering kali berisiko, bahkan bisa membawa kerugian," kata Fredy Ferdianto, staf Humas Neo Expo Promosindo, penyelenggara Info Franchise Business Concept (IFBC) Expo 2011 di arena pameran, Jakarta, Minggu (20/3/2011) malam.

Ia menjelaskan, tahap awal usaha merupakan periode paling riskan dalam berwirausaha, terutama bagi pebisnis pemula. Risiko kerugian sangat mungkin terjadi pada tahap uji coba ini. Hal itu bisa memukul mental wirausaha seseorang.

Untuk memperkenalkan berbagai nilai lebih bisnis waralaba itulah, pihaknya bersama majalah Info Franchise dan Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) menyelenggarakan Info Franchise Business Concept Expo (IFBC) di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto Kav 27, Jakarta Selatan.

Kendala lain, menurut Fredy, orang awam kerap menghubungkan bisnis waralaba terbatas pada sejumlah bidang usaha yang membutuhkan modal milyaran dan bermitra dengan pihak asing.
Ia menyebutkan, sejumlah contoh seperti bisnis perhotelan, farmasi, bioskop, hingga yang paling dikenal luas, waralaba perdagangan ritel. "Padahal bisnis ini sudah menjangkau usaha mikro dan kecil yang sederhana, misalnya jajanan kuliner, seperti bakso, es cendol, jus, dan masih banyak lagi," tukasnya.

Waralaba sederhana seperti itu, menurut Fredy, hanya membutuhkan dana antara Rp 2-10 juta. Tanpa informasi melalui ajang pameran sebagaimana IFBC 2011, klaim Fredy, mustahil orang-orang bermodal kecil akan melirik bidang usaha waralaba.

Untuk ajang ini, pihak penyelenggara mengajukan dua syarat pokok untuk menjadi peserta. Yang pertama, peserta adalah waralaba yang sudah berusia lima tahun ke atas.
Kedua, peserta wajib menunjukkan prototype usaha, seperti cabang-cabang, mitra usaha, contoh gerai hingga produk. "Ini penting agar pengunjung dan calon mitra memiliki garansi yang akurat tentang bidang usaha yang akan mereka pilih," tambah Fredy.

Banyaknya waralaba jenis kecil yang hadir pada ajang ini mendorong penyelenggara untuk menggandeng Departemen Perdagangan (Depdag) RI. Sambutan positif ditunjukan Depdag dengan menyewakan sejumlah gerai pameran tanpa pungutan biaya kepada 8 label Business Opportunity (BO). BO adalah sebutan untuk rintisan usaha menuju waralaba.
Selain itu, Depdag juga membuka Klinik Bisnis. Klinik ini tidak hanya membagikan cuma-cuma berbagai brosur dan buku terkait prosedur perizinan yang mesti ditempuh setiap agen dan pebisnis waralaba.
"Kami juga menjelaskan mekanisme penyampaian laporan keuangan tahunan (LKTP) dan menjelaskan berbagai peraturan yang harus dipahami mereka yang terlibat dalam bisnis ini," kata seorang staf Depdag yang ditemui di Gerai Klinik Bisnis Departemen Perdagangan RI.

Menurutnya, Depdag sangat berkepentingan dengan ajang seperti ini. "Soal perizinan dan informasi kebijakan waralaba kan menjadi tanggung jawab departemen dan dinas-dinas (Perdagangan)," katanya.
Ajang ini, tambahnya, memberikan kesempatan kepada mereka untuk memberikan pemahaman dini kepada calon wirausahawan. Ajang yang berlangsung selama 3 hari, 18-20 Maret, ini baru saja berakhir pukul 21.00 malam. Penyelenggara berjanji akan menginformasikan jumlah pengunjung dan total transaksi selama IFBC berlangsung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar