PRODUK

Minggu, 08 Agustus 2010

INVESTASI KEKAL

Saudara-saudaraku yang terkasih,

Tuhan Yesus berkata bahwa seseorang yang mau mengiring-Nya harus menghitung dulu anggarannya (Luk. 14:28-30). Di sini dikesankan bahwa mengiring Yesus bukanlah suatu hal yang mudah, melainkan suatu hal yang berat.

Pernahkah Saudara-saudara memperkarakan di mana sulit dan beratnya dalam mengiring Yesus? Saya khawatir ada di antara kita yang belum menemukan letak sulit dan beratnya mengiring Yesus. Sama artinya belum menemukan salib. Kekristenan seperti ini adalah Kekristenan yang ompong dan cenderung menjadi palsu. Mengapa cenderung menjadi palsu? Sebab kalau kita memang baru menjadi orang Kristen, kita belum diperkenalkan dengan salib; Tuhan memandang kita belum sanggaup memikul salib dan berani membayar harga. Namun seiring berjalannya waktu dalam perjalanan hidup kita dalam mengiring Yesus, maka tidak bisa tidak, Dia akan menunjukkan harga yang harus kita bayar dan salib yang harus kita pikul.

Di mana letak kesulitannya? Kelaparan, kemiskinan, aniayakah, perlakuan tidak adilkah? Pernahkah saudara membayangkan betapa besar pembelaan orang-orang non-Kristen kepada agamanya? Rela untuk tidak menikah karena apa yang dipercayainya; mereka rela mati bagi apa yang mereka percayai; dan bahkan mereka rela membunuh dan merusak bagi apa yang mereka percayai.

Lalu bagaimana hidup Kekristenan kita? Dalam Matius 6:24 dikatakan bahwa “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan…” ini merupakan hal yang sangat sulit. Seseorang harus terlebih dahulu berani memutuskan kepada siapa dia mengabdi. Inilah dasar yang harus kita miliki sebelum kita terjun lebih dalam lagi dalam mengiring Yesus. Nanti seiring perjalanan waktu saudara akan mengerti apa yang dimaksudkan dengan all out untuk Tuhan itu. Kita akan merasa bahwa apa yang kita lakukan semuanya seolah-olah kita lakukan untuk Tuhan (Kol. 3:23).

Kita jangan khawatir untuk menjadi miskin jika kita all out untuk Tuhan. Tetapi sikap hati kita harus menjadi benar dulu, jangan mengiring Tuhan hanya karena ingin memperoleh berkat-berkat jasmani. Tidak ada berkat tanpa harga yang harus dibayar, dan tidak ada mahkota tanpa salib. Dalam Matius 6:19-20, pengiringan kita kepada Yesus harus berdasarkan sikap hati yang benar, sikap hati yang sepenuhnya mengabdi kepada Tuhan dan tidak mengumpulkan harta di bumi. Dalam Kekristenan hanya ada pilihan: mengumpulkan harta di sorga atau mengumpulkan harta di bumi? Saudara jangan khawatir jadi susah dan miskin kalau mengikuti Firman ini. Jika kita jadi miskin kita tidak mungkin dapat membantu orang miskin. Jika kita jadi susah, mana mungkin kita dapat membantu orang susah. Tuhan mempunyai 1001 cara untuk membuat kita kokoh dalam segala hal jika kita mau memiliki sikap hati yang benar. Ini bukan sesuatu yang mudah dan sederhana. Ini pertarungan yang merenggut segenap jiwa dan raga. Untuk itu pengertian kita harus dibuka terlebih dulu supaya kita dapat mengenal kebenaran Tuhan yang murni.

Sumber: http://erastussabdono.com/tag/pertumbuhan-kristen/

Pdt. Dr. (HC) Erastus Sabdono, D.Th. yang lahir di Surakarta tahun 1959 dalam sebuah keluarga Kristen adalah gembala jemaat Rehobot Ministry di Jakarta. Beliau juga adalah seorang pembicara seminar, KKR, TV dan radio, penulis buku, penanggung jawab majalah dan renungan harian TRUTH, serta pengajar kebenaran Alkitab yang inovatif. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Institut Theologi dan Keguruan Indonesia (ITKI/Seminari Bethel Indonesia); meraih gelar Master of Theology (M.Th.) di Sekolah Tinggi Theologi (STT) Jakarta; menerima gelar Doktor Honoris Causa dari American Christian College; menyelesaikan studi doktoral dan meraih gelar Doktor Theologi (D.Th.) dari STT Baptis Indonesia (STBI) Semarang.

Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio

“Tidak mau meminta nasihat dalam keputusan-keputusan berat merupakan tanda kesombongan dan ketidakdewasaan. Selalu ada orang yang mengenal Alkitab, sifat manusia, dan karunia serta keterbatasan kita sendiri, lebih baik daripada kita.”
(Prof. J. I. Packer, D.Phil., Mengenal Allah, hlm. 305)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar