PRODUK

Senin, 31 Mei 2010

Membangun Kepercayaan

Oleh DR. Jakoep Ezra

Persahabatan dikhianati, karena persaingan, rasa iri dan sikap tidak mau kalah. Di dunia bisnis apalagi? Berbagai praktek manipulasi, penipuan dan berbagai tindak kejahatan merajalela dimana-mana. Karena ketidakpercayaan antara suami istri menyebabkan rumah tangga retak. Saat ini kepercayaan terhadap para pejabat, para tokoh bahkan pemuka agama pun sedang diuji. Siapa lagi yang datang dipercayai?

Betapa pentingnya sebuah kepercayaan. Suatu hubungan yang kokoh dan harmonis dibangun dan dilandasi oleh sikap saling percaya. Kepercayaan merupakan kunci suatu relasi dan kemitraan, baik dalam bisnis, karier, persahabatan, keluarga bahkan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mungkin ada toko yang namanya Toko Percaya Makmur atau Toko Saling Percaya, tapi percayalah tidak satupun toko yang menjual barang yang namanya ‘kepercayaan’. Karena kepercayaan tidak dapat diperjual belikan melainkan dibangun dan dipelihara dengan baik. Suatu hubungan selalu melibatkan dua pihak, kepercayaanpun demikian. Sebuah pernikahan dibangun atas dasar komitmen saling percaya di antara suami dan istri. Persahabatan, kemitraan, network, kesepakatan bisnis, semua butuh kepercayaan dari masing-masing pihak.

5 Aspek dasar untuk membangun kepercayaan:

1. Integritas.
Integritas pribadi merupakan jaminan terutama untuk dipercayai orang lain. Jika kita kehilangan integritas, maka kitapun sulit meraih kepercayaan dari orang lain. Kejujuran selalu lebih berharga daripada kemunafikan yang paling memikat sekalipun. Orang akan menaruh respek pada sebuah kejujuran. Dan kita akan merasa sangat lega dan langgeng jika kita diterima dan dipercayai sebagaimana adanya kita.

2. Kebajikan.
Kebajikan itu hakiki. Jika kita memiliki sumbernya, maka kebajikan takkan habis-habisnya. Seumpama benih yang hidup, jika ditanam ia akan menumbuhkan kepercayaan. Kebajikan ditunjukkan melalui keteladanan hidup dan perbuatan baik. Tanpa kebajikan, siapa yang akan mempercayai kita.

3. Waktu.
Pepatah mengatakan, waktu adalah penguji terbaik. Melewati kurun waktu, suatu hubungan akan semakin teruji. Kepercayaan dibangun seumur hidup.

4. Pertanggungjawaban.
Banyak orang ingin dipercaya, namun merasa takut dengan pertanggungjawaban. Mengapa? Karena mereka tidak menjadi diri sendiri apa adanya. Padahal integritas dan pertanggungjawaban bagaikan koin dengan dua sisi. Sekali kita berintegritas, otomatis kita pasti dapat memberi pertanggungjawaban.

5. Bukti.
Bukti adalah konfirmasi dari sebuah kepercayaan. Apakah kita dapat membuktikan kompetensi yang dimiliki? Janji-janji yang ditepati? Ucapan dan tindakan yang selaras? Konfirmasi yang positif akan membangun dan semakin memperkuat sebuah kepercayaan.

KEBERUNTUNGAN SELALU MENGEJAR ORANG YANG DAPAT DIPERCAYA